Dasar Dasar Pendidikan Islam

Author
Published March 01, 2022
Dasar Dasar Pendidikan Islam

Dasar Dasar Pendidikan Islam

Ilustrasi dasar dasar pendidikan islam



Dasar dasar pendidikan Islam sangat jauh berbeda dengan sistem pendidikan saat ini yang cenderung sekuler. Sekuler dalam artian seolah-olah pendidikan dan aktifitas belajar tidak ada hubunganya dengan agama. Sekuler juga dalam artian, pelajaran agama khususnya agama Islam mendapat porsi sangat minim, dan penilaian mata pelajaran agama pun hanya berdasarkan penilaian akademik, bukan perilaku, akhlak dan ketaatan siswa dalam beribadah.


Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika input pendidikan negeri ini masih ironis, orang-orang yang dianggap berpendidikan, nyatanya menjadi biang masalah, tawuran antar pelajar, bahkan koruptor juga hasil pendidikan dan orang yang berpendidikan.


Pengertian Dasar Dasar Pendidikan Islam

Dasar dasar Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi. Misi penciptaan manusia sebagai hamba Allah dan pemimpin di muka bumi inilah yang menjadi acuan dan sandaran untuk menyelenggaarakan pendidikan Islam, inilah yang menjadi dasar dasar pendidikan Islam.


Dalam dasar dasar Pendidikan Islam, pendidikan harus  merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem hidup Islam. Sebagai bagian integral dari sistem kehidupan Islam, sistem pendidikan memperoleh masukan dari supra sistem, yakni keluarga dan masyarakat atau lingkungan, dan memberikan hasil/keluaran bagi suprasistem tersebut.


Sementara sub-sub sistem yang membentuk sistem pendidikan antara lain adalah tujuan pendidikan itu sendiri, anak didik (pelajar/mahasiswa), manajemen, struktur dan jadwal waktu, materi, tenaga pendidik/pengajar dan pelaksana, alat bantu belajar, teknologi, fasilitas, kendali mutu, penelitian dan biaya pendidikan.


Dalam dasar dasar pendidikan Islam, Interaksi fungsional antar subsistem pendidikan dikenal sebagai proses pendidikan. Proses pendidikan ini didefinisikan Pannen dan Malati, dalam buku "Program Applied Approach" (1996), sebagai proses transformasi atau perubahan kemampuan potensial individu peserta didik menjadi kemampuan nyata untuk meningkatkan taraf hidupnya lahir dan batin.


Proses pendidikan dapat terjadi di mana saja. Berdasarkan pengorganisasian dan struktur, serta tempat terjadinya proses tersebut, dikenal adanya pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Melalui proses ini diperoleh hasil pendidikan yang mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. 


Selanjutnya, hasil dasar dasar pendidikan Islam ini dikembalikan kepada supra sistem atau lingkungan. Di dalam lingkungan inilah, hasil pendidikan efektivitas dan efisiensi proses pendidikan yang berlangsung dapat dibuktikan. Dari hasil pendidikan, ditambah interaksi dengan lingkungannya, sistem pendidikan memperoleh umpan balik yang dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses pendidikan.


Dari gambaran di atas tentang dasar dasar pendidikan Islam, diketahui bahwa kesinambungan tujuan pendidikan dalam setiap jenjang pendidikan sekolah (formal) sangatlah penting dan itu akan mempengaruhi  kemampuan anak didik dalam menjalani proses pendidikan.


Untuk menjaga kesinambungan proses pendidikan, penjabaran capaian  tujuan pendidikan melalui  kurikulum pendidikan, dengan guru/dosen, dan budaya pendidikan yang mendukung menjadi suatu kebutuhan yang tidak terelakkan. Kurikulum pendidikan Islam sendiri sangatlah khas, unique. Tampak pada penetapan tujuan/arah pendidikan, unsur-unsur pelaksana pendidikan, serta asas dan struktur kurikulum.


Setelah kita membahas tentang pengertian dasar dasar pendidikan Islam, selanjutnya akan dibahas tujuan pendidikan dalam dasar dasar pendidikan Islam.


Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah suatu kondisi ideal dari obyek didik yang akan dicapai, ke arah mana seluruh kegiatan dalam sistem pendidikan di arahkan. Maka, sebagaimana pengertiannya, pendidikan Islam yang merupakan upaya sadar yang  terstruktur, terprogram  dan sistematis bertujuan untuk membentuk manusia sebagai berikut.


1. Membentuk Kepribadian Islam

Tujuan yang pertama ini pada hakikatnya merupakan perwujudan dari konsekuensi seorang muslim, yakni bahwa sebagai muslim ia harus memegang erat identitas kemuslimannya dalam seluruh aktivitas hidupnya. Identitas itu menjadi kepribadian yang tampak pada pola berpikir dan bersikapnya yang dilandaskan pada ajaran Islam.


Pada prinsipnya, ada  tiga langkah untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian Islam pada diri seseorang, sebagaimana dicontohnya Rasulullah SAW. Pertama, menanamkan aqidah Islam kepada yang bersangkutan dengan metode  tepat, yakni yang sesuai dengan kategori aqidah Islam, sebagai aqidah yang keyakinannya dicapai melalui proses berfikir.


Kedua, mengajaknya bertekad bulat untuk senantiasa menegakkan bangunan cara berpikir dan perilakunya di atas pondasi ajaran Islam semata.


Ketiga, mengembangkan kepribadiannya dengan cara membakar semangatnya untuk  bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan  pengetahuan Islam dan mengamalkan dan memperjuangkannya dalam seluruh aspek kehidupannya sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT.


Pendidikan, melalui berbagai pendekatan, harus menjadi media untuk memberikan dasar bagi pembentukan, peningkatan, pemantapan, dan pematangan kepribadian anak didik.


Semua komponen yang terlibat dalam kegiatan pendidikan (guru/dosen/karyawan, orangtua, masyarakat bahkan sesama peserta didik), termasuk semua kegiatan yang dilakukan baik kurikuler, ko-kurikuler, ekstra kurikuler, maupun interaksi di antara komponen di atas harus diarahkan bagi tercapainya tujuan yang pertama ini.  


2. Menguasai Tsaqofah Islam

Tujuan kedua ini juga merupakan konsekuensi (lanjutan) dari kemusliman seseorang. Islam mendorong setiap muslim untuk menjadi manusia yang berilmu dengan cara men-taklif-nya (memberi beban hukum) kewajiban menuntut ilmu. Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, membagi ilmu  dalam dua kategori, dilihat dari sisi kewajiban menuntutnya. 


Pertama, ilmu yang dikategorikan sebagai fardu a’in, yakni ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu muslim. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini adalah ilmu-ilmu tsaqofah Islam, yakni  pemikiran, ide, dan hukum-hukum (fiqih) Islam, bahasa Arab, sirah nabawiyah, ulumu al-Qur’an, ulumu al-Hadits, dan sebagainya.


Kedua adalah ilmu yang dikategorikan sebagai fardu kifayah, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian dari umat Islam. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini adalah sains dan  teknologi, serta berbagai keahlian, seperti  kedokteran, pertanian, teknik dan sebagainya, yang sangat diperlukan bagi kemajuan material masyarakat.


3. Menguasai Ilmu Kehidupan (Iptek dan keahlian)

Sementara itu, kewajiban untuk menguasai ilmu kehidupan (iptek dan keahlian)  diperlukan agar umat Islam dapat meraih kemajuan material, sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini. Dorongan Islam untuk menguasai Ilmu kehidupan (iptek) juga dapat dimengerti dari pengkajian terhadap hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.


Pada hakikatnya ilmu pengetahuan terdiri atas dua hal, yakni pengetahuan yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia, sehingga ia dapat menentukan suatu tindakan (aksi) tertentu, dan pengetahuan mengenai perbuatan itu sendiri.


Berkaitan dengan akal, Allah SWT telah memuliakan manusia dengan akalnya. Dengan akalnya, manusia dilebihkan atas seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Akal menjadi sesuatu yang paling berharga yang dimiliki  manusia. Allah SWT menurunkan Al Qur’an dan mengutus Rasul-Nya Muhammad SAW dengan membawa risalah Islam untuk  menuntun akal manusia dan membimbingnya ke jalan yang benar. 


Dalam Al Qur’an  banyak sekali ayat-ayat yang membicarakan tentang fungsi dan pentingnya akal. Sementara, dalam banyak ayat lainnya, Allah SWT juga menyerukan manusia untuk menggunakan akalnya dan memanfaatkannya supaya dapat memikirkan dan merenungkan ciptaan Allah SWT, sehingga darinya bisa didapat sains dan aplikasinya berupa teknologi.


Dari itu pula, dapat membuahkan tambahan keimanan terhadap Allah SWT, terhadap keesaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan keagungan-Nya. Di sinilah pentingnya peranan akal manusia, di mana melalui proses pemikirannya akan mampu menghantarkan manusia pada keimanan. 


Pada sisi yang lain, akal  yang demikian juga akan memacu kehendak untuk menguasai iptek, sebab dorongan dan perintah untuk maju ternyata berasal dan sekaligus menjadi buah dari keimanan seorang muslim.  


Dalam kitab Al Fathul Kabir,  misalnya, diketahui bahwa Rasul pernah mengutus dua orang sahabatnya ke negeri Yaman untuk mempelajari teknik pembuatan senjata yang mutakhir ketika itu, yang disebut dabbabah, sejenis tank yang terdiri atas kayu tebal berlapis kulit dan tersusun dari roda-roda. Rasul memahami betul  manfaat senjata ini untuk  menerjang benteng lawan.


Dalam kitab Al Furusiyah (Ibnul Qoyyim), diriwayatkan bahwa Rasulullah suatu ketika melihat  busur-busur panah buatan orang-orang Arab,   berkata, “Dengan ini, dengan busur-busur, tombak, Allah SWT mengokohkan kekuasaanmu di dalam negeri dan menolong kalian atas lawan-lawanmu.”


Pada kali yang lain, Rasulullah SAW  memerintahkan Asy-Syifa binti Abdullah agar mengajarkan kepada Hafshah Ummul Mukminin, menulis dan teknik pengobatan. Rasul juga menganjurkan kaum muslimah agar mempelajari ilmu tenun, menulis, dan merawat orang sakit (pengobatan).


Demikianlah penjabaran tentang dasar dasar pendidikan Islam yang mendorong untuk menguasai iptek dan teknologi. Semoga bermanfaat bagi Anda.


Post a Comment

Pages

Copyright © 2021